Beranda > Inspirasi > Menikmati Hidup Sekaligus Banyak Uang

Menikmati Hidup Sekaligus Banyak Uang

Menikmati hidup sekaligus bergelimang harta…wow…apa mungkin? Ada tulisan menarik di Harian Kompas Minggu, 25 Januari 2004. Kalau suka silahkan dibaca…semoga menginspirasi…

“SAYA punya usaha membuat aksesori. Saya juga mempunyai delapan toko aksesori. Oleh karena ada beberapa toko, saya jadi tidak bisa mengawasi semuanya sekaligus. Apalagi saya juga masih harus membeli bahan baku dan mengawasi produksi. Saya pernah percayakan kepada karyawan saya. Tetapi, ternyata juga tidak memuaskan. Akhirnya saya harus turun tangan, keliling dan telepon terus setiap hari,” keluh Nila, seorang pengusaha.

SEMENTARA Ratih, pemilik garmen di daerah Warung Buncit, Jakarta Selatan, mengeluh soal tenaga kerja. Dia ingin sekali mempunyai wakil yang bisa mengontrol jalannya produksi sehingga dia punya waktu untuk mengerjakan hal lain.

Namun, dia bermasalah dengan soal upah tenaga kerja. Jika dia memilih tukang jahit biasa sebagai wakilnya, dia memang bisa membayar dengan upah murah. Akan tetapi, ternyata tukang jahit biasa hanya mengerti soal jahitan. Dia tidak bisa diajak berpikir tentang desain, manajemen, pemasaran, dan sebagainya.

Jika Ratih memilih tenaga kerja lulusan sekolah desain, dia mengaku tidak mampu membayar gajinya. “Berat sekali pilihannya. Yang satu murah tetapi hasilnya tidak memuaskan, sementara yang lain hasilnya lumayan tetapi harus membayar lebih besar,” ujarnya.

MENJADI pengusaha mungkin impian banyak orang. Mereka ingin mempunyai kebebasan, tidak terikat dengan jam kantor, tetapi mempunyai uang relatif banyak. Namun, ternyata hal itu tidak mudah. Banyak pengusaha yang berhasil mendapatkan uang banyak, namun dia terjebak dalam usaha itu sendiri sehingga dia tidak punya waktu untuk hal lain yang ingin dilakukannya.

Menurut James Gwee TH, Direktur Academia Education & Training, sebuah lembaga pengembangan sumber daya manusia yang berpusat di Singapura, di dalam hidup ada empat situasi manusia.

Pertama, orang punya waktu tetapi tidak punya uang, contohnya pengangguran. Kedua, orang punya uang tetapi tidak punya waktu, misalnya pengusaha yang menjalankan usahanya sendiri. Dia punya uang tetapi tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Kalau pekerjaannya ditinggalkan maka semuanya berantakan, misalnya pemilik sekaligus koki rumah makan.

Ketiga, tidak punya uang sekaligus tidak punya waktu. Orang seperti ini adalah karyawan. Dia tidak punya waktu untuk dirinya sendiri karena harus bekerja, juga tidak punya uang karena hanya mengandalkan gaji tetap.

Keempat, punya waktu dan punya uang. Contohnya adalah pengusaha sukses yang punya beberapa perusahaan, tetapi dia masih bisa main golf dan jalan-jalan ke luar negeri pada hari-hari kerja.

Menurut Gwee, seseorang baru bisa dibilang menjadi pengusaha sukses jika telah mencapai kondisi yang keempat, punya waktu dan punya uang. Banyak pelaku wiraswasta yang terjebak dalam kondisi ke dua, yaitu punya uang tetapi tidak punya waktu. Baik untuk diri sendiri maupun guna mengembangkan usaha lain.

“Tolok ukur pebisnis tulen adalah dia tidak hadir di tempat kerja dan bisnisnya tetap berjalan lancar,” ujar Gwee dalam seminar yang diselenggarakan Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia (Inkowapi) bekerja sama dengan pusat latihan wirausaha DeMono di Jakarta, minggu lalu.

Pengusaha sukses bisa melepaskan pekerjaannya di kantor karena dia sudah mempunyai sistem. Sistem itu diciptakan sehingga dia tak perlu hadir dan usaha bisa tetap berjalan. Pengusaha itu akan semakin sukses jika dapat membuat uangnya bekerja untuk dia. Misalnya dengan menanamkannya dalam berbagai investasi.

“Uang yang kita hasilkan dari kerja keras harus diputar agar menghasilkan uang lagi. Itu namanya cerdas. Jika uang dihasilkan justru habis begitu saja, itu sama sekali tidak cerdas. Uang harus bekerja untuk kita agar kita mendapat kebebasan yang maksimal,” Gwee menandaskan.

UNTUK membuat sistem agar perusahaan bisa berjalan sendiri diperlukan tiga pilar utama, yakni pemasaran, keuangan (modal), dan sumber daya manusia. Sumber daya manusia tidak hanya staf (karyawan), tetapi juga pemasok, dan pelanggan. Pengusaha harus menjalin hubungan baik dengan kedua pihak itu untuk kelangsungan usahanya.

Agar sistem bisa tercipta, pengusaha harus mempercayai karyawannya. Jika dia tidak bisa percaya, dia tak akan pernah bisa melepaskan diri dari pekerjaan. “Pengusaha juga harus siap bahwa adakalanya terjadi kekurangan atau hal yang tidak seperti diharapkan. Hal itu biasa terjadi asalkan kesalahan tersebut tidak terulang. Kemungkinan hal itu terjadi tidak begitu besar karena orang yang diberi tanggung jawab biasanya akan melakukan hal terbaik,” tutur Gwee.

Untuk bisa melepas karyawan bekerja sendiri, karyawan juga harus diberdayakan. Dia harus mempunyai kemampuan yang dibutuhkan agar produk yang dihasilkan sesuai standar yang ingin dicapai.

Misalnya untuk menjual barang, karyawan yang dibutuhkan adalah orang yang mempunyai kemampuan wiraniaga. Dia bisa membuat konsumen membeli barang yang lebih mahal, membeli lebih banyak, bisa membuat pelanggan kembali datang, dan menjual barang lain selain barang utama.

“Ambil contoh toko kacamata. Karyawan yang baik adalah orang yang tidak hanya mampu menjual kacamata dan lensa, tetapi dia juga bisa menjual soft lens, pembersih kaca, kacamata hitam, dan sebagainya. Pembeli yang semula hanya ingin membeli satu barang saja, akhirnya membeli banyak barang karena kemampuan menjual yang tinggi dari si pramuniaga,” ucap Gwee.

Dengan kemampuan karyawan yang tinggi seperti ini, otomatis omzet akan meningkat. Peningkatan omzet dengan cara ini bisa dibilang memiliki kelebihan karena tidak memerlukan banyak uang untuk biaya promosi. Namun, di sisi lain diperlukan biaya lebih untuk menggaji karyawan dengan jumlah yang memadai.

“Karyawan yang baik harus dibayar lebih tinggi. Apalagi, karyawan seperti ini biasanya memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Jarang sekali kita menemukan karyawan berpendidikan rendah, tetapi bisa mengerjakan tugas-tugas penting dalam perusahaan,” kata Gwee. (ARN)

How about your opinion?? Let share together…

Iklan
Kategori:Inspirasi
  1. Lita
    Desember 30, 2009 pukul 3:04 pm

    Proses untuk sampai ke tingkat keempat itu…..yang nggak sesederhana tulisan ini hehe

    • Anonim
      Februari 1, 2010 pukul 8:40 am

      Seribu langkah harus dilalui dng langkah pertama…

  2. Maret 10, 2011 pukul 2:22 pm

    aku ingin mempunyai uang banyak

  3. Oktober 7, 2014 pukul 2:56 pm

    Link exchange is nothing else except it is only placing
    the other person’s web site link on your page at appropriate place and other person will also do same in support of you.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: