Beranda > Kecerdasan Emosi > Kecerdasan Emosi (3)

Kecerdasan Emosi (3)

VIII. Peran Penting Ayah
Ahli-ahli psikologi berpendapat bahwa keterlibatan seorang ayah dalam pengasuhan anak itu penting. Menumpuknya bukti-bukti ilmiah sekarang menyarankan bahwa ayah yang terlibat terutama yang terlibat secra emosional terhadap anak memberikan sumbangan bagi kesejahteraan anak. Para ayah mempengaruhi anak dengan cara yang berbeda dengan para ibu, terutama di bidang-bidang seperti hubungan dengan teman sebaya dan prestasi akademis di sekolahnya.

Pengaruh ayah dimulai sejak dini. Suatu penelitian yang dilakukan oleh Fatherhood Project menemukan bahwa bayi berumur lima bulan yang mempunyai banyak hubungan dengan ayah mereka menjadi tidak takut dan cemas di sekitar orang asing dewasa. Bayi-bayi itu lebih banyak mengoceh dengan orang asing dan memperlihatkan kerelaan digendong oleh orang lain dibanding dengan bayi-bayi yang ayahnya kurang terlibat. Studi lain membuktikan bahwa bayi-bayi berumur satu tahun kurang tangisnya apabila dibiarkan sendiri bersama orang lain seandainya mereka memiliki kontak dengan ayah mereka

Banyak peneliti mengatakan bahwa para ayah mempengaruhi dengan permainan. Bukan saja ayah itu biasanya menghabiskan lebih banyak persentase waktu mereka bersama anak-anak dalam kegiatan bermain, melainkan merekapun terlibat dalam gaya-gaya permainan yang melibatkan segi fisik yang lebih menggairahkan dibanding dengan para ibu. Penelitian yang dilakukan oleh Michael Yogman dan T.Berry Brazelton menemukan bahwa para ayah kurang banyak berbicara dengan bayi mereka tetapi lebih banyak menyentuh bayi-bayi mereka. Para ayah cenderung membuat bunyi-bunyian tepukan berirama untuk mendapat perhatian dari bayinya. Permainan ayah pun cenderung membawa anak-anak ke sebuah “roller coaster emotional” yang berpindah yang membutuhkan minat kecil sampai kegiatan-kegiatan yang menimbulkan minat yang lebih besar. Sebaliknya para ibu menjaga permainan mereka serta emosi-emosi bayi secara lebih tenang.

Meskipun perbedaan-perbedaan ini berlangsung jauh sampai ke masa kanak-kanak. Dimana ayah melibatkan anak-anak mereka dalam kegiatan-kegiatan yang kasar termasuk mengangkat air, mengayun dan main gelitik. Sering kali ayah membuat permainan sendiri yang aneh-aneh, sedangkan para ibu lebih cenderung tetap menggunakan kegiatan-kegiatan yang sudah teruji seperti membaca buku, ciluk ba, mengggerakkan mainan atau main puzzle.

Banyak ahli psikologi berpendapat bahwa gaya hingar bingar permainan kasar ayah ini merupakan jalan yang penting untuk menolong anak belajar tentang emosi-emosi. Bayangkan ayah sebagai seekor beruang yang menakutkan sedang memburu anak kecil yang riang gemvira menyeberag halaman. Atau memutar anak di atas kepalanya bagai naik pesawat, atau sebagai lawan dalam permainan pedang-pedangan. Permainan-permainan itu mungkin saja menimbulkan sedikt ketakutan tetapi sekaligus senang dan bergairah. Anak akan belajar mengamati dan bereaksi terhadap isyarat-isyarat ayah sebagai pengalaman yang positif. Ia misalnya menemukan bahwa menjerit dan membuat terkekeh-kekeh membuat ayah tertawa dan untuk melanjutkan permainan tersebut. Ia juga mendapat petunjuk bahwa permainan itu akan selesai dan ia belajar bagaimana memulihkan dirinya dari kegairahan dan tenang kembali.

Ketrampilan-ketrampilan itu bermanfaat ketika anak berpetualang ke luar di dunia luas yaitu teman teman bermain. Setelah ikut permainan kasar dengan ayah , ia akan tahu bagaimana membaca isyarat-isyarat orang lain ketika perasaan itu meninggi. Ia tahu bgaimana memuat sendiri permainan yang menggairahkan dan bereaksi terhdap orang lain dengan cara-cara yang tidak terlampau tenang maupun keluar dari kendali. Ia tahu menjaga emosi-emosinya pada tingkat yang optimal bagi permainan dengan penuh kesenangan.

Suatu kajian oleh Ross Parke dan Kevin Mc Donald memberikan bukti adanya kaitan antara permainan fisik ayah dengan bagaimana anak-anak itu rukun dengan teman mainnya. Ketika mengamati anak-ansk, para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang ayahnya memperlihatkan permainan fisik yang tinggi menjadi paling populer bila ayah-ayah mereka bermain dengan mereka dengan cara cara yang tidak memaksa dan mengatur. Anak-anak yang tinggi permainan fisik dengan ayahnya namun ayah bersukap suka memerintah menerima angka popularitas paling rendah. Hal ini paling penting untuk mengingatkan para ayah agar menghindarkan kecaman , penghinaan, perendahan dan memaksakan kehendak karena akibat yang terjadi akan sangat fatal sekali bagi perkembangan emosi anak.

Terlihat dari hal-hal diatas, walaupun interaksi anak dengan ibu juga penting tetapi dibandingkan dengan ayah mutu kontak ibu bukanlah merupakan peramal yang sama kuat mengenai keberhasilah dan kegagalan anak tersebut di sekolah maupun dengan teman-temannya.

Iklan
  1. Februari 1, 2010 pukul 10:35 am

    Tulisan menarik tentang peran seorang ayah dimana saya sedang melakoninya…..tulisan menarik….salam kenal and keep blogging and sharing

    Donny Oktavian
    http://www.manuverbisnis.wordpress.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: