Beranda > Inspiration Story > Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (29)

Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (29)

Oleh:
DAHLAN ISKAN
email: iskan@jawapos.com
SMS: 081 331 313 373

DI masa menanti waktu pulang ini, saya kehilangan dua teman wanita yang paling saya akrabi. Keduanya tinggal di lantai yang sama. Satu dari Jepang, satunya lagi dari Harbin, Tiongkok. Saya sering sekali mengunjungi kamar masing-masing dan ngobrol berlama-lama. Terutama kalau istri saya pergi belanja. Apalagi mereka senasib: juga hepatitis, sirosis, dan kanker hati. Kami biasa saling curhat.

Yang wanita Jepang amat modis. Bajunya bagus-bagus dan mahal-mahal. Rambutnya disasak tinggi. Sepatunya seperti Cinderella. Dia sendirian. Tidak satu pun keluarganya mendampingi. Dia juga tidak bisa berbahasa Mandarin sehingga hanya saya pasien yang bisa dia ajak ngobrol dalam bahasa Inggris.

Dua wanita itu juga amat mengesankan. Bicaranya, guraunya, dan intelektualnya bisa nyambung dengan saya. Dua-duanya juga amat cantik -terutama kalau penilaian ini saya berikan 35 tahun yang lalu, saat keduanya masih kira-kira berumur 30 tahun.

“Saya nanti tidak sesukses kamu,” kata wanita yang dari Jepang itu suatu saat kepada saya. Dia ngiri melihat badan saya yang sehat dan agak gemuk. Saya memang tidak menceritakan bahwa gemuk saya waktu itu karena bengkak. “Umur saya sudah 72 tahun,” tambahnya.

Wanita yang dari Harbin lebih mengeluh lagi. Bukan saja mengenai umurnya, tapi juga kondisi badannya. “Perut saya sudah berisi air,” katanya. Kalau saja dia masih muda, tentu orang akan mengira dia hamil. “Umur saya juga sudah 69 tahun,” tambahnya. Lebih dari itu dia juga mengidap sakit gula.

Saya memahami keadaannya. Saya tahu bahwa sakit gula akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sukses tidaknya transplantasi. Tapi, saya tidak menceritakan bagian ini padanya. Saya ceritakan kenyataan bahwa ada pasien lain yang juga punya sakit gula toh berhasil dengan baik juga.

Di lain waktu wanita Harbin tadi curhat yang lain lagi. “Saya nanti pulangnya mungkin paling belakangan,” katanya. “Kalian sudah pulang semua, saya akan masih di sini. Sendirian,” katanya. Saya menjawab: Saya juga tidak akan buru-buru pulang. Saya juga berjanji kepadanya untuk terus memberinya semangat. Saya cepat akrab dengan wanita Harbin ini, antara lain, karena saya pernah lama di sana: Belajar bahasa Mandarin dengan cara home stay. Juga sudah tak terhitung lagi berapa kali saya ke Harbin sesudah itu.

Benar saja, si Cinderella sangat berhasil operasinya. Pasti semakin modis dia nanti. Juga benar bahwa seminggu setelah operasi dia sudah menentukan tanggal pulang. “Dokter saya di Jepang yang minta saya segera pulang. Menjalani perawatan di sana,” katanya seperti minta pengertian. Tentu kami tetap menampakkan kegembiraan kami bahwa dia begitu sukses dengan transplantasinya.

Yang wanita Harbin juga sudah menjalani transplantasi. Juga sukses. “Perut saya yang mulai buncit dulu itu, sudah hilang,” katanya dengan meraba-raba perutnya. Benar, saya lihat perutnya “sudah hilang”. Meski memang lebih lambat mulai bisa turun dari tempat tidur, bicaranya sudah keras dan tegas. Juga sudah bisa tertawa, meski kalau tertawa lantas kian terlihat umurnya yang sebenarnya.

Saya sendiri akhirnya mendapat gelar ’yuan lao’ di rumah sakit ini. Penghuni lama. Pasien yang kerasan di rumah sakit. Tidak buru-buru pulang. Karena ’yuan lao’, saya sangat hafal pada perawat, pegawai, dan dokter di rumah sakit ini. Mereka juga hafal pada saya.

Meski begitu hafal, saya masih sering kecele kalau suatu saat disapa wanita yang sangat modis dan ceria di dalam lift atau di lobi. Terutama pada jam-jam pulang atau berangkat kerja. “Siapa ya wanita cantik ini,” sering saya bertanya dalam hati. Eh, baru sadar bahwa mereka adalah perawat atau pesuruh yang tadi melayani saya.

Rupanya mereka biasa ganti-ganti baju. Begitu selesai bertugas, para perawat itu ganti pakaian seperti model. Bajunya, tatanan rambutnya, cara membawa tasnya, sama sekali tidak menyangka kalau dia tadi yang pakai baju perawat dengan topi putih. Dia sering menyapa, tapi saya seperti tidak kenal lagi siapa dia.

Perawat di sini memang disediakan kamar mandi dan ganti baju. Setiap masuk kerja mereka mandi dulu dan baru ganti baju perawat. Demikian juga ketika pulang kerja. Ini agar kuman yang terbawa perawat saat berangkat kerja tidak terbawa ke pasien.

Yang seperti itu tidak hanya perawat. Pesuruh dan tukang pel lantai pun idem ditto. Sewaktu bertugas mengepel kamar saya, pakaiannya baju-kerja penyapu lantai. Sepatunya sepatu kungfu yang murahan. Tapi, begitu pulang, sungguh membelalakkan mata. Bajunya you can see, celananya hot pants (maklum, musim panas) dan rambutnya dimain-mainkan seperti artis Korea. Mereka sama sekali tidak punya rasa rendah diri meski pekerjaannya tukang pel lantai. Sebaliknya, meski berangkat kerja dengan amat modis, ketika kerja tidak ogah-ogahan.

Saya ingat direktur saya Zainal Muttaqien. Kami sering diskusi soal kemiskinan di Indonesia dan Tiongkok. Mengapa orang di Tiongkok yang juga banyak sekali yang lebih miskin dari orang miskin Indonesia, harga dirinya lebih baik. Bukan saja jarang lihat pengemis, juga kalau bertemu orang seperti tidak punya rasa rendah diri. Dan ini menjadi salah satu sumber kemajuan Tiongkok. Ini yang disebut social-capital -modal sosial. Bank Dunia menyebutkan social-capital ini menjadi faktor penting kemajuan Tiongkok di samping modal finansial.

Muncullah istilah dari Zainal yang akan selalu saya ingat dan yang akan kami perjuangkan sebagai inti dimulainya pembangunan harga diri ini. Yakni, satu moto: “Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat”. Saya dan Zainal, dan banyak lagi yang lain, akan bisa jadi model perjuangan itu. Bagaimana ketika miskin dulu tidak jatuh sampai menjual harga diri dan jabatan. Dan, ketika sudah kaya (duille!) tidak sewenang-wenang.

Saya ingat, meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah TEMPO yang begitu ternama, saya belum punya sepeda, apalagi sepeda motor. Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit di belakang pasar Kertajaya, Surabaya. Rumah separo tembok separo kayu. Yang kamar mandinya dipakai bersama beberapa rumah tangga. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba sendiri. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai.

Waktu harus wawancara ke daerah industri di Tandes Margomulyo, saya hanya punya uang Rp 75 di saku. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya. Dari Kertajaya ke Jembatan Merah Rp 25, lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp 50. Selesai wawancara, saya diberi amplop. Saya tahu isinya pasti uang. Saya menolaknya meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. Meski Tandes-Kertajaya begitu jauhnya. Saya pulang dengan jalan kaki. Hampir dua jam. Karena beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya.

Waktu harus pulang ke Kaltim, tentu banyak orang yang akan memberi saya tiket. Tapi, saya pilih naik kapal kayu ke Banjarmasin dulu, agar murah. Lalu naik kendaraan umum berupa jip terbuka yang penuh sesak dengan penumpang. Belum ada bus waktu itu. Saya khawatir dengan istri saya. Maka, saya bilang kepada sopir agar boleh naik di kursi dekat sopir. “Istri saya hamil muda,” kata saya.

“Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat” akan membuat bangsa ini tidak gampang jatuh ke derajat bangsa-pengemis. Atau, bangsa yang kalau melihat orang kaya yang muncul kecemburuannya. Bangsa yang mudah disogok dan dipermainkan. Yang juga mudah dibayar untuk, misalnya, sekadar berdemo.

Dari penampilan para perawat dan tukang pel di rumah sakit ini, saya belajar bagaimana menjalani pekerjaan rendahan dengan jiwa yang kuat. Saya kepingin sekali meniru ini di Graha Pena. Petugas cleaning service tidak harus merasa rendah diri. Saya sudah minta manajemen Graha Pena untuk menghitung konsekuensi biayanya. Kalau upaya meniru ini berhasil, penampilan Graha Pena juga akan lebih “keren”. Dan harga diri pegawai yang di situ sama tingginya.

Lalu muncul ide gila yang tidak masuk akal. Untuk membuat kota-kota di Indonesia cantik, para wanita yang lalu lalang di kota itu harus juga terlihat cantik. Betapapun bersihnya sebuah kota, kalau yang lalu-lalang di dalamnya kumuh-kumuh, nggak menarik jadinya. Maka, pemda yang menginginkan kotanya cantik dan menarik harus memberikan penduduknya yang wanita barang-barang ini secara gratis: Baju, lipstik, eye shadow, sepatu, dan biaya ke salon.

Ide itu tentu tidak mungkin dilakukan. Kalaupun dilakukan, belum tentu lipstiknya digunakan. Bisa-bisa dijual. Sebab, filsafat “Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat” belum menjadi budaya.

Tentu semua biaya seperti itu, kalau di rumah sakit ini, ditanggung sendiri. Tapi, di Graha Pena kami akan mencoba memberikannya secara cuma-cuma kepada pegawai bagian cleaning service-nya. Tentu tidak harus sampai pada hot pants, tapi berjilbab pun akan dicarikan jilbab yang modis.

Salah satu kesimpulan saya, membangun kepercayaan diri begitu pentingnya. Jarang saya lihat orang Tiongkok yang merasa rendah diri. Mereka bisa membedakan ’rendah diri’ dan ’rendah hati’. Sedangkan kita, kalau tidak mau dibilang kurang ajar, sering terbelit filsafat ’unggah-ungguh’, ’sopan-santun’, ’tawaduk’, yang sebenarnya tetap bisa kita lakukan tanpa harus jatuh ke derajat ’rendah diri’.

Kembali ke dua wanita tadi (eh, kok ingat dia lagi sih?), ternyata ada baiknya juga dia pulang lebih dulu. Kalau tidak, tulisan ini tidak akan bisa selesai tepat waktunya. (Bersambung)

Iklan
  1. Februari 22, 2014 pukul 4:18 am

    It truly shocks me that most don’t appear to share this view. Good work on the blog and I will be sure to spread this page.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: