Arsip

Posts Tagged ‘Keceerdasan Emosi’

Kecerdasan Emosi (2)

Januari 14, 2010 1 komentar

V.IQ dan Kecerdasan Emosional

IQ dan EI bukanlah ketrampilan yang saling bertentangan tetapi ketrampilan yang sedikit terpisah. Berbeda dengan tes-tes untuk IQ yabg sudah dikenal sampai sekarang belum ada tes tertulis untuk menghasilkan nilai Kecerasan Emosional. Meskipun ada banyak penelitian mengenai masing-masing komponen. Seperti Empati, paling banter diuji dengan mengambil contoh kemampuan seseorang membaca ekspresi orang lain dan raut muka akan dibaca melalui pita video.

Namun Jack Block (University of California Bekerly) membuat suatu perbandingan antara dua type orang yang ber IQ tinggi dan ber-EI tinggi Perbedaannya sangat menarik disimak. terbuka. Seorang pria yang ber IQ tinggi hampir merupakan karikatur kaum intelektual, terapil di dunia pemikiran tetapi canggung di dunia pribadi. Pria-pria ini penuh ambisi dan produktif, serta tekun. Cenderung bersikap kritis dan meremehkan, pilih-pilih dan agak pemalu. Kurang menikmati seksualitas, dan pengalaman sensual, kurang ekspresif dan menjaga jarak . Secara emosional dingin dan membosankan. Sebaliknya pria yang tinggi kecerdasan emosionalnya secara sosial mantap, mudah bergaul dan jenaka, tidak mudah takut atau gelisah. Mereka berkemampuan besar untuk melibatkan diri dengan orang-orang atau permasalahan, untuk memikul tanggung jawab. Simpatik dan hangat. Kehidupan emosional mereka kaya, tetapi wajar. Mereka merasa nyaman dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan dunia pergaulan lingkungan.

Kaum wanita yang ber IQ tinggi mempunyai keyakinan intelektual yang tinggi, lancar mengungkapkan gagasan, menghargai masalah-masalah intelektual dan mempunyai minat intelektual dan estetika yang cukup luas. Mereka cenderung mawas diri, mudah cemas, gelisah, dan merasa bersalah, serta ragu-ragu untuk mengungkapkan kemarahan secara terbuka. Sebaliknya seorang wanita yang ber EI tinggi cenderung bersikap tegas dan mengungkapkan peasaannya secara langsung dan memenadang diri secara positif. Mudah bergaul dan ramah, mampu mengungkapkan perasaan secara wajar. Kemantapan pergaulannya membuat mereka mampu untuk menerima orang-orang baru, ceria, spontan.

Tentu saja gambaran di atas adalah gambaran yang ekstrem. Kita semua memiliki campuran kecerdasan intelegen dan kecerdasan emosional dengan kadar yang berbeda-beda. Tetapi, gambaran ini menyajikan suatu pandangan yang instruktif tentang apa yang ditambahkan secara terpisah oleh masing-masing dimensi terhadap ciri-ciri seseorang. Sejauh seseorang sekaligus mempunyai kecerdasan kognitif dan emosional. namun, diantara keduanya ,

kecerdasan emosional menambahkan jauh lebih banyak sifat-sifat yang membuat kita lebih manusiawi

VI . Penerapan Kecerdasan Emosional Pada Anak
Otak manusia belum terbentuk sepenuhnya pada waktu dilahirkan. Otak itu terus membentuk dan berkembang seumur hidup dengan perkenbangan yang paling dasyhat terjadi pada masa kanak-kanak. Dan diantara semua spesies, manusia membutuhkan waktu yang paling lama untuk benar-benar mengembangkan otak menjadi matang. Beberapa wilayah otak yang penting bagi kehidupan emosional termasuk yang paling lambat matangnya, dan akan timbuh sampai akhir masa pubertas.

Kebiasaan mengelola emosi pada masa kanak-kanak dan remaja dengan sendirinya akan memabantu mencetak jaringan sirkuit. Kebiasaan-kebiasaan pada masa kanak menjadi tertera pada jaringan sinaps dasar persarafan, dan akan lebih sulit dirubah di masa kemudian. Mengingat pentingnya lobus prefrontal bagi pengelolaan emosi, kesempatan yang sangat panjang dalam pembentukan sinapsis di wilayah otak ini berarti bahwa pengalaman seorang anak bertahun-tahun dapat mencetak sambungan yang permanen dalam sirkuat pengatur otak emosional tadi. Pengalaman penting ini mencakup bagaimana orang tua dapat diandalkan dan tanggap dengan kebutuhan anak, peluang serta bimbingan yang diperoleh anak dalam belajar menangani kekecewaan sendiri dan mengendalikan dorongan hati

Ada lima langkah pelatihan emosi yang lazim digunaka oleh orang tua untuk membina hubungan emosi dengan anak-anak sambil meningkatkan kecerdasan Emosional Anak,. Langkah-langkah itu adalah :

1. Menyadari Emosi-emosi anak
Studi yang dilakukan oleh John Gottman memeperlihatkan bahwa agar orang tua merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anak mereka. Mereka harus harus menyadari emosi yang ada dalam diri sendiri dan kemudian dalam diri anak. Sadar secara emosional berarti menjadi pelatih emosional tanpa bersikap sangat ekspresif, tanpa mereka kehilangan kendali. Juga berarti bagaimana kita mengenali dan merasakan emosi sehingga dapat mengidentifikasikanperasaan-perasaan dan peka terhadap emosi orang lain.

2. Mengakui emosi sebagai peluang untuk kedekatan dan mengajar
Bagi banyak orang tua megeali emosi negatif anak adalah peluang untuk menjalin ikatan. Kemampuan untuk menolong menenangkan seorang anak yang marah misalnya dapat membuat kita “merasa paling jelas sebagai orang tua”. Dengan hidup.mengakui emosi-emosi anak, kita menolong mereka mempelajari ketrampilan untuk menghibur diri anak, yang berguna baginya seumur

Namun banyak pula orang tua yang mengabaikan emosi negatif pada anak dengan harapan emosi itu akan hilang. Emosi tidak akan bekerja dengan cara demikian. Sebaliknya, emosi-emosi negatif itu lenyap apabila anak-anak dapat membicarakan emosi mereka, mengidentifikasikan dan merasa dimengerti. Oleh karena itu dianjurkan pada orang tua untuk mengakui emosi anak pada tingkat rendah sesegera mungkin sebelum emosi-emosi tersebut mwningkat dan tergelar penuh. Dengan ini anak akan merasa bahwa orang tua adalah sekutunya dan dapat diajak bekerja sama, kemudian apabila timbul suatu krisis tentunya akan dihadapi bersama – sama

3.Mendengarkan dengan penuh empati dan meneguhkan perasaan anak
Dalam konteks ini, mendengarkan jauh lebih banyak daripada mengumpulkan data dari telingan Para pendengar empati menguinakan mata untuk mengamati petunjuk fisik emosi-emosi anak. Menggunakan imajinasi untuk melihat situasi dari t itik pandang anak. Menggunakan kata-kata untuk merumuskan kembali dengan cara menenangkan, dan tidak mengecam. Tetapi yang paling penting adalah orang tua menggunakan hati mereka untuk merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anak-anak, yang ditunjukkan oleh bahasa tubuh anak. Ungkapan wajahnya dan gerak-geriknya seperti alis yang mengerenyit, tulang rahang yang terkatup, menghentak-hentakkan kaki. Itulah perasaan anak yang ditunjukkan kepada orang tua.

Tentunya sebagai pelatih emosi, orang tua dengan penuh perhatian menyelami apa yang diekspresikan oleh anak. Sikap yang penuh perhatian akan membuat anak tahu bahwa orang tua menganggap serius keprihatinannya. Sewaktu anak mengungkapkan perasaan orang tua hendaknya memantulkan kembali apa yang di dengar dan diperhatikan. Ini akan menyakinkan anak bahwa orang tua mendengarkan dengan seksama dan orang tua menganggap bahwa semua perasaan-perasaan itu adalah syah.

4. Menolong anak memberi nama emosi dengan kata-kata
Salah satu langkah yang penting dalam pelatihan emosi adalah menolong anak-anak memberi nama emosi-emosi, sewaktu emosi sedang dialami anak. Seperti “takut, marah, cemas, sakit hati, sedih. Menyediakan kata-kata dengan cara ini dapat menolong anak mengubah suatu perasaannya yang tidak jelas, menakutkan dan tidak nyaman menjadi sesuatu yang dapat dirumuskan, sesuatu yang mempunyai batas-batas dan merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan.

Studi-studi memperlihatkan bahwa tindakan memberi nama pada emosi dapat berefek mententramkan sistem syaraf, dan membantu anak-anak segera pulih kembali lebih cepat dari peristiwa-peristiwa yang merisaukan. Anak-anak yang dapat menentramkan diri mereka sendiri sejak usia dini memperlihatkan beberapa kecerdasan emosional. Mereka cenderung berkonsentrasi lebih baik, mempunyai hubungan yang lebih baik dengan teman-teman sebaya, memiliki prestasi akademis lebih tinggi dan tubuh menjadi sehat. Memberi nama emosi bukan berarti memberitahu anak-anak bagaimana seharusnya mereka merasa, tetapi membantu menyusun kosakata yang dapat digunakan untuk mengungkap emosi

5. Menentukan batas-batas sambil membantu anak menyelesaikan masalah
Setela meluangkan waktu untuk mendengarkan anak dan menolongnya memberi nama serta memahami emosi, boleh jadi orang tua akan merasakan bahwa secara wajar tertarik ke proses penyelesaian masalah. Proses ini berlansung dengan lima tahap. Sepintas proses ini tampak berbelit-belit, tetapi dengan latihan, proses ini akan berjalan secara otomatis dan lazim berjalan dengan cepat. Dengan pengalaman yang terus menerus, orang tua akan terkejut ternyata anak-anak akan mulai memecahkan sendiri masalah.
Proses ini adalah :
a. Menentukan batas-batas
Terutama bagi anak-anak kecil, menyelesaikan masalah seringkali dimulai dari orang tua menentukan batas terhadap tingkah laku anak yang tidak pada tempat. Seorang anak menjadi frustasi, misalnya, kemudian memukul temannya, merusak mainan. Setelah orang tua mengakui emosi dibalik tingkah nakalnya tadi dan menolong memberi nama perasaan tersebut. Orang tua memastikan bahwa anak tersebut memahami bahwa tingkah laku negatif tadi tidak pada tempatnya dan tidak dibenarkan. Lalu orang tua dapat membimbing anak memikirkan cara-cara yang tepat unuk mengatasi perasaan negatif.

Anak-anak perlu memahami bahwa perasaan- perasaan mereka itu bukan masalahnya, yang menjadi masalah adalah tingkah laku mereka yang keliru. Semua perasaan dan hasrat dapat diterima tetapi tidak semua tingkah laku dapat diterima. Oleh karena itulah tugas orang tua membatasi terhadap tindakan-tindakan bukan perasaan-perasaan. Kelonggaran yang telampau banyak pada tingkah laku anak harus dijauhi karena hal tersebut menimbulkan kecemasan dan meningkatkan tuntutan akan hak-hak istimewa yang tak dapat diterima.

b. Menentukan sasaran
Langkah berikutnya adalah menentukan sasaran sekitar pemecahan. Untuk mengidentifikasikan suatu sasaran di sekitar penyelesaian masalah, menanyakan anak apa yang ingin dicapainya berkaitan dengan masalah yang dihadapi. Sering kali jawaban yang sederhana. Seperti ingin membetulkan mainan yang rusak. Atau barangkali meminta penjelasan bagimana caranya menyelesaikan masalah yang dihadapi.

c. Memikirkan pemecahan masalah yang dihadapi
Bekerjasama dengan anak untuk mendapatkan pilihan-pilihan bagi pemecahan masalah. Namun, penting sekali untuk tidak bertindak terlalu jauh dan mendorongnya untuk memunculkan gagasan-gagasannya sendiri. Tapi ini juga tergantung dari usia anak. Anak dibawah sepuluh tahun bukanlah pemikir yang baik, untuk itu lebih baik orang tua muncul dalam satu gagasan penyelesaian masalah

d. Membantu anak memilih pemecahan
Ini merupakan kesempatan yang baik untuk menawarkan pendapat-pendapat atau gagasan disamping ingin mendorong anak-anak berpikir sendiri. Menceritakan bagaimana orang tua pada masa lalu dalam menyikapi masalah akan juga menolong anak menyelesaikan masalah daripada konsep-konsep yang abstrak. Apabila anak-anak memilih suatu pemecahan terhadap suatu masalah yang tidak berhasil, tolonglah mereka menganalisis bagaimana hal itu bisa gagal. Kemudian orang tuadapat mulai memecahkan masalah dengan cara baru. Ini mengajarkan bagi anak bahwa membuang salah satu ide tidaklah berarti bahwa ide tersebut gagal total Ini menunjukkan bahwa ini semua merupakan proses suatu belajar dan bahwa setiap penyelesaian mendorong mereka semakin mendekati akhir yang sukses.

VII. Strategi melatih emosi
Bila kita sebagi orang tua menggunakan kelima langkah pelatihan emosi secara teratur, maka orang tua dan anak akan semakin terampil terhadap perasaan. namun itu tidak berarti bahwa pelatihan emosi menjamin suatu pelyaran yang lancar. Mungkin akan menjumpai banyak hambatan-hambatan. Mungkin kita sebagai orang tua ingin bersentuhan dengan emosi-emosi anak, tetapi kadang karena sesuatu hal orang tua tidak mampu mendapatkan isyarat yang jelas. Atau mungkin orang tua tidak mampu memberikan kesan yang tersirat kepada anak. Dibawah ini adalah strategi-strategi dalam menjalankan pelatihan emosional yang dipelajari oelh John Gottman, Phd melalui kelompok-kelompok orang tua, penelitian klinis dan studi-studi pengamatan.

a. Menghindari kritik yang berlebihan, komentar yang menghina atau mengolok-olok anak. Penghinaan akan merusak hubungan orang tua dengan anak dan akan merusak harga diri anak. Akibat yang ditimbulkan dari anak-anak yang mengalami penghinaan dari orang tua adalah menghadapi kesulitan dengan pekerjaan di sekolah dan bergaul dengan teman-temannya. Mereka adalah anak-anak yang mempunyai kadar hormon yang berkaitan dengan jumlah stress cukup tinggi dan lebih banyak menderita penyakit. Para orang tua terus menerus mengkoreksi tingkah laku anak, mentertawakan kesalahan-kesalahan, dan secara tidak perlu mengerjakan tugas-tugas yang palling sederhana. Kadang para oranng tua tidak sadar merendahkan anak, memberi julukan kepada anak tanpa bermaksud seperti demikian. Seperti “anak saya bodoh sekali, terlalu pendiam, malas. Anak melihat ke arah orang tua mereka untuk mencari identitas diri dan mereka cenderung mempercayai apa saja yang dikatakan oraang tua mereka mengenai diri mereka.

b. Menggunakan pujian
Pujian sangat penting untuk menaikkkan harga diri anak ,memberi motivasi dan memberi semangat mereka untuk lebih maju. Setiap pujian sangat berarti untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam bertindak.

Iklan